Ketika Kepemimpinan Otokratis Berhasil Merubah Sebuah Sekolah

K

Tahun 1967, Joe Clark muda (Morgan Freeman) tengah mengajar hukum Amerika kepada para siswanya di Eastside High School ketika salah seorang dewan sekolah bernama Dr. Frank Napier (Robert Guillaume) datang ke kelasnya. Clark naik pitam setelah mendengar kabar bahwa dewan sekolah mengadakan rapat dewan eksekutif tanpa mereka berdua. Mereka pun langsung menuju ruang rapat.

Ia menolak dengan keras usulan penjualan aset sekolah. Ia berkeyakinan bahwa kurikulum Eastside akan mandul jika sekolah dijual. Namun keputusan dewan eksekutif sekolah sudah bulat. Terlebih dewan pendidikan setempat memindahkan Clark untuk mengajar di kelas 6. Dan hal tersebut disetujui oleh dewan sekolah.

Clark lalu pergi dari Eastside dengan perasaan kecewa atas keputusan itu.

Dua puluh tahun kemudian, Eastside yang semula merupakan salah satu sekolah menengah bergengsi di kawasan Paterson, New Jersey, Amerika Serikat. Kini berubah menjadi sekolah pinggiran yang amburadul serta berada di peringkat terbawah dari daftar sekolah terbaik. Gedung sekolah yang awalnya rapi kini penuh dengan coretan-coretan hasil dari kenakalan siswa. Sampah yang berserakan, narkoba, perundungan, tindakan kriminal serta perkelahian antara siswa dengan kepala sekolah, guru maupun petugas keamanan kini menjadi pemandangan yang biasa di Eastside.

Karena situasi dan kondisi pembelajaran yang tidak kondusif tersebut. Eastside hanya mampu meluluskan sekitar 38% siswanya dari syarat minimal 75%. Hal ini tentu saja membuat dewan sekolah gusar. Karena jika dalam waktu 110 hari kedepan para siswa Eastside tidak mampu lulus ujian kemampuan dasar, sekolah akan diambil alih oleh pemerintah. Melalui sebuah pertemuan, pengawas, pengacara dewan pendidikan serta walikota Paterson akhirnya menyetujui untuk memanggil Joe Clark.

Ia dipanggil untuk menjadi Kepala Eastside High School.

Clark baru saja selesai mengajar siswanya di sebuah sekolah dasar ketika Dr. Napier dan Rosenberg (Ethan Phillips) pengacara dewan pendidikan menghampirinya. Ia tak percaya keadaan sekolah yang telah ia tinggalkan berpuluh tahun lamanya begitu hancur. Mengetahui keadaan Eastside saat ini, Clark sadar bahwa tugas yang ditawarkan padanya bukanlah sesuatu yang mudah. Awalnya ia menolak karena apa yang ia utarakan dua puluh tahun lalu kini menjadi kenyataan. Namun setelah melalui perenungan panjang, ia pun datang ke Eastside.

Dari sinilah perubahan itu dimulai.

Clark yang baru saja datang langsung mengadakan pertemuan dengan para guru dan staff karyawan Eastside. Tanpa basa-basi ia menginstruksikan untuk mengumpulkan seluruh siswa di aula. Siswa yang terlibat narkoba, tindakan kriminal serta siswa yang telah berada di sekolah sudah lebih dari lima tahun untuk ditempatkan secara terpisah. Tercatat, ada sekitar 300 siswa yang terlibat tindakan minor tersebut. Mereka dikumpulkan diatas panggung aula kemudian dengan tegas, Clark mengeluarkan mereka dari sekolah. Hal ini lantas membuat aula Eastside menjadi ricuh. 300 siswa yang dikeluarkan tersebut langsung dibawa keluar oleh petugas keamanan sekolah. Kemudian kepada siswa yang lain Clark berkata dengan berapi-api:

“Selanjutnya mungkin kalian (yang akan dikeluarkan). Mereka mengatakan bahwa sekolah ini telah mati layaknya kuburan yang dibangun diatasnya. Walau begitu kita menyebut tim Eastside sebagai hantu, bukan?

Dan apa itu hantu?

Hantu adalah roh yang bangkit dari kematian. Aku ingin kalian menjadi para hantuku. Kalian yang akan pimpin kebangkitan kita dengan menentang dugaan bahwa kita akan gagal.

Motto saya sederhana.

Jika kalian gagal dalam hidup, saya tidak mau kalian menyalahkan orangtua kalian. Saya tidak mau kalian menyalahkan orang kulit putih. Saya mau kalian menyalahkan diri kalian sendiri.

Tanggung jawab itu ada ditangan kalian”.

Hening. Seluruh siswa yang mendengarkan pidato Clark terdiam terbawa suasana. Adegan kemudian beralih ke sebuah pertemuan yang diadakan antara orangtua siswa dengan pihak sekolah. Terjadi pro kontra atas keputusan Clark mengeluarkan 300 siswa tersebut. Ms. Barret (Lynne Thigpen) adalah salah satu orangtua dari siswa yang dikeluarkan menjadi orang yang paling keras menentang keputusan Clark. Namun Clark tak bergeming, ia tidak mau menganulir keputusannya. Ia berkata lebih baik mengeluarkan 300 siswa bermasalah dan menyelamatkan 2.700 siswa lainnya sebelum terkontaminasi. Perdebatan yang alot pun tak terhindarkan.

Pertemuan akhirnya usai dengan Ms. Barret yang memendam amarah diantara riuhnya standing applause orangtua siswa yang pro atas keputusan Clark.

Setelah kejadian itu, banyak konflik yang muncul silih berganti. Thomas Sams (Jermaine Hopkins) salah satu siswa yang dikeluarkan dari Eastside, menemui Clark didekat tempat parkir sekolah setelah Clark selesai bekerja. Sams berkata bahwa Clark telah melakukan kesalahan dengan mengeluarkannya dari sekolah, namun ia membantahnya. Ia buku catatan pelanggaran yang dilakukan oleh Sams, tidak ada kesalahan dalam keputusannya. Sams pun menangis, memohon kepada Clark untuk mengembalikannya ke sekolah.

Mendengar perkataan itu Clark pun mengajak Sams keatas gedung lalu menyuruhnya melompat. Sams tidak mau, dia hanya ingin kembali ke sekolah. Dia berjanji untuk melakukan hal yang terbaik serta tidak akan lagi menghisap ganja. Clark pun memperingatkan Sams akan bahaya menghisap ganja yang bisa membunuh sel otaknya secara perlahan. Setelah melalui perdebatan Clark pun mengijinkan Sams kembali kesekolah dengan berbagai syarat.

Konflik pun berlanjut, Clark tidak hanya mengeluarkan siswanya yang bermasalah. Tetapi ia juga bermasalah dengan para guru di Eastside. Mulai dari memecat guru musik Ms. Elliot (Robin Bartlett) lalu menskorsing Mr. Darnell (Michael Beach). Konflik lain pun muncul saat Kid Ray (Alex Romaguera) dikeroyok oleh segerombolan siswa yang pernah dikeluarkan. Clark yang berhasil melawan pengeroyok itu memutuskan untuk menggembok seluruh kawasan sekolah agar siswa yang lain tetap aman.

Permasalahan yang dihadapi Clark di Eastside tidak hanya tentang siswa nakal saja. Kaneesha (Karen Malina White) mantan siswa SD saat Clark menjadi kepala sekolah disana terlihat murung di ruang tunggu saat Clark hendak masuk keruangannya. Ia pun menghampiri Kaneesha dan mencoba mengajaknya bicara. Dengan terisak Kaneesha mengungkapkan bahwa ibunya tak menginginkannya lagi. Mendengar hal tersebut Clark bersama Ms. Levias (Beverly Todd) menuju kerumah Kaneesha untuk bertemu dengan Ms. Carter (Regina Taylor) ibu dari Kaneesha. Dari sana terjawab inti permasalahan keluarga Kaneesha.

Ms. Barret rupanya belum menyerah. Segala upaya ia lakukan untuk menggulingkan Clark. Termasuk mengadu ke walikota Don Bottman (Alan North). Kali ini Ms. Barret mempermasalahkan rantai pintu yang ada disekolah.

Pada akhirnya Clark terbukti merantai pintu sekolah secara menyeluruh, dan hal tersebut berlawanan dengan undang-undang terkait pemadaman kebakaran disana. Dengan bukti percakapan melalui HT, Clark di tangkap. Pada saat walikota tengah mengadakan rapat dengan dewan sekolah beserta wali murid. Seluruh siswa Eastside datang untuk melakukan unjuk rasa. Mereka menuntut agar Mr. Clark dibebaskan. Mereka beranggapan Clark tidak bersalah, ia melakukan itu demi keselamatan para siswanya. Melihat keadaan menjadi tidak kondusif, dengan pengeras suara Ms. Barret meminta agar para siswa kembali ke sekolah. Bukannya mereka seruan unjuk rasa anak-anak Eastside justru semakin lantang.

Melihat hal tersebut walikota Don meminta agar Clark menemui siswanya agar kembali ke sekolah. Clark pun menemui mereka, namun tetap saja mereka tidak mau membubarkan diri. Ditengah situasi yang kian tidak kondusif, Ms. Levias datang dengan membawa sepucuk surat untuk Mr. Clark. Kabar diluar dugaan pun datang yang membuat semua orang bahagia. Kecuali untuk Ms. Barret.

Eastside High School Lulus Ujian Kemampuan Dasar.


Pembaca yang budiman,

Lean on Me adalah film lawas yang dirilis tahun 1989 dan diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1987. Film ini bukanlah film action penuh efek CGI. Namun, bagi penikmat film yang lebih menyukai unsur cerita daripada efek. Menonton film ini akan membuat kita merinding sekaligus takjub.

Gaya kepemimpinan Clark yang otoriter dalam film ini awalnya membuat ia kesulitan dalam memulai tugasnya. Ia mendapat banyak perlawanan tidak hanya dari siswa yang bermasalah di sekolahnya. Namun juga dari sebagian orangtua siswa, para guru sekolahnya sendiri serta walikota setempat.

Namun, Clark tidak patah arang. Meski memimpin dengan tangan besi, perlahan namun pasti ia berhasil mendapatkan hati para siswa serta guru di Eastside. Sehingga ia pun dengan mudah mampu membuat para siswanya untuk belajar dan lulus ujian kemampuan dasar hanya dalam waktu 110 hari.

Kepemimpinan Clark yang sangat otokratis atau sering kita menyebutnya otoriter merupakan sebuah kepemimpinan yang menjadikan diri sendiri sebagai pusat kendalinya. Berbeda dengan kepemimpimpinan demokratis yang memberikan sebagian otoritas kepada para bawahan. Maupun kepemimpinan moralis yang sangat menghargai bawahannya. Kepemimpinan otoriter memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.

Sekarang ini gaya kepemimpinan yang kerap ditemui adalah gaya kepemimpinan kharismatik, demokratis, moralis serta efektif daripada gaya kepemimpinan otoriter. Namun, secara hakikat tidak ada yang mutlak lebih baik antara satu dengan yang lainnya. Dalam keadaan tertentu cara demokratis, karismatik maupun moralis tidak akan dapat bekerja dengan efektif dan optimal.

Hal ini berlaku bagi keadaan yang tengah dihadapi oleh Clark.

Mengelola sekolah seperti Eastside yang kala itu tengah terpuruk tidak akan bisa hanya dilakukan dengan cara demokratis apalagi hanya mengandalkan karisma. Hal itu terbukti diawal filmnya dimana guru, kepala sekolah maupun petugas keamanan tidak berdaya menghadapi ganasnya kenakalan siswa Eastside sebelum Clark datang.

Dibutuhkan sistem serta gaya kepemimpinan yang dapat mengarahkan seluruh lapisan warga sekolah agar mau berubah menuju kearah yang lebih baik. Karena itulah gaya kepemimpinan otoriter ala Joe Clark berhasil diterapkan di Eastside High School.

Selain konflik yang terangkum dalam tulisan diatas. Ada banyak adegan seru tentang kehidupan di sekolah Eastside yang bisa membangkitkan memori kita akan menyenangkannya kehidupan sekolah.

“Free Mr. Clark !!” jargon yang digemakan para siswa Eastside pada unjuk rasa di adegan ending film akan mampu membuat kita terkesan. Adegan tersebut adalah bukti kecintaan antara pendidik dan anak didiknya yang begitu agung. Dedikasi Joe Clark terhadap Eastside yang begitu mengagumkan merupakan salah satu contoh best practice di dunia pendidikan, dan menurut penulis adalah salah satu yang terbaik sepanjang masa. Maka tak heran jika kisahnya mampu mengangkat namanya menjadi terkenal, masuk sampul majalah TIME edisi 1 Februari 1988 dan difilmkan.

Sungguh Inspiratif.

Download Filmnya: disini

Tertulis di Meja kerja Ruang Guru, 11 Februari 2020


Referensi

Freeman, Morgan. 1989. Lean on Me. Warner Bros (Film)

Paramita, PD. 2011. Gaya Kepemimpinan (Style of Leadership) yang Efektif dalam Suatu Organisasi. Jurnal Universitas Pandanaran. Diakses 11/02/2020. https://jurnal.unpand.ac.id/index.php/dinsain/article/download/65/62

About the author

Avatar
Fahmi W. Arifudin

Guru PKn, Freelancer, Football, Reading, Writing & Gaming

Add Comment

Fahmi W. Arifudin

Avatar

Guru PKn, Freelancer, Football, Reading, Writing & Gaming

Media Sosial

Arsip

Kategori

Pos Terbaru

Tag

error: Content is protected !!