Teach Like Finland, Mendidik Ala Bangsa Nordik

T

Awal millenium merupakan tahun yang bersejarah bagi Finlandia. Suatu malam di bulan desember tahun 2001 semua mata tertuju pada salah satu negara Nordik itu. OEDC (Organization for Economic Cooperation and Development) saat itu mempublikasikan hasil studi internasional pertamanya, tentang kemampuan anak-anak berusia 15 tahun yang berhubungan erat dengan ketrampilan membaca, matematika, dan ilmiah yang telah mereka peroleh di dalam dan di luar sekolah. Studi tersebut dikenal dengan PISA (Programme for International Student Assesment/Program Penilaian untuk Siswa Internasional).

Finlandia meraih skor tertinggi.

Di luar perkiraan, mereka berhasil mengalahkan hegemoni negara-negara dengan sistem pendidikan yang lebih maju semacam Amerika Serikat, Inggris atau Jepang. Pencapaian Finlandia melampaui semua 31 negara OECD lain dalam tes yang dirancang untuk menunjukkan seberapa baik orang muda akan berhasil memahami pengetahuan yang dinamis ketika mereka beranjak dewasa. Hal ini pun membuat komunitas pendidikan serta media internasional kebingunan.

Bagaimana bisa negara kecil dengan jumlah penduduk tidak lebih dari  5,5 juta jiwa ini mampu menjadi yang terbaik. Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut mulailah para peneliti, ahli dan praktisi berbondong-bondong untuk melakukan penelitian disana.

Beberapa tahun kemudian, Timothy D. Walker, seorang guru muda sebuah sekolah di daerah Arlington, Masachusstes, AS. Merasa begitu kewalahan dengan pekerjaannya. Di Tahun pertamanya sebagai seorang guru ia harus tiba di sekolah sekitar pukul 06.30 pagi di hari kerja dan kadang pulang di malam hari. Biasanya dengan membawa satu tas penuh panduan mengajar. Bahkan di hari libur, ia masih harus menyentuh pekerjaannya di rumah. Saat sarapan ia mengecek kembali rencana pembelajarannya. Di malam hari, ketika ia merebahkan diri di kamar, ia berpikir terus tentang kekeliruannya. Saat tidur ia bahkan bisa terbangun 4 atau 5 kali.

Terkadang ia menjadi begitu cemas di pagi hari hingga lari ke kamar mandi apartemennya  dan muntah disana, itu menjijikan.

Sebelum memulai tahun pertama mengajarnya, ia sangat antusias. Yakin bahwa ia mencintai pekerjaannya sebagai seorang guru. Namun, beberapa bulan kemudian ia mulai merasakan sesuatu yang sebaliknya, ia mulai membenci pekerjaannya. Sama sekali tidak menyenangkan. Melihat hal itu, Johanna, istri Walker yang seorang Finlandia begitu manghawatirkan keadaan suaminya. Ia menyarankan Walker agar mengambil cuti jika ia tidak bisa mengerjakan pekerjaannya perlahan-lahan. Namun Walker menolak.

Johanna bertanya-tanya mengapa Walker begitu bersikeras untuk bekerja tanpa henti. Ia menceritakan temannya di Helsinki, seorang guru kelas 1 sama seperti Walker bekerja tidak lebih dari 6 jam setiap hari, termasuk 1 atau 2 jam persiapan. Pulang kerja sekitar pukul 02.00 sore dan meninggalkan semua pekerjaannya di sekolah.

Walker mengira istrinya salah memahami beban kerja temannya. Atau jika hal tersebut merupakan fakta, temannya itu bukanlah seorang guru yang baik. Guru yang baik menurut Walker adalah yang tidak punya jam kerja yang pendek. Walker berkata pada istrinya guru harus mendorong dirinya sampai pada batasnya.

“Tidak di Finlandia”, kata Johanna.

Setelah mendengarkan penjelasan tentang keadaan pendidikan di sana, Walker akhirnya pun tertarik untuk mengajar disana. Beberapa tahun kemudian, setahun sebelum pindah ke Helsinki, Walker telah mengajar penuh di sekolah, menyelesaikan pascasarjana dan mengambil beberapa pekerjaan paruh waktu.

Ketika Walker mengumumkan niatnya untuk menetap di Helsinki, Kepala Sekolahnya di Amerika mengatakan bahwa itu adalah langkah yang bagus untuk karirnya. Pada awalnya Walker menertawakan ide itu. Namun pada akhirnya, ia terbang ke negeri Nordik itu.

Tahun 2013, melalui wawancara via Skype dengan seorang kepala sekolah. Walker akhirnya mendapat pekerjaan di sebuah sekolah. Seperti orang Amerika kebanyakan, Walker mengetahui bahwa pendidikan di Finlandia adalah salah satu yang terbaik di dunia. Namun, dalam praktiknya, apa artinya itu? Istrinya telah memberikan sepenggal informasi tentang sekolah disana – hari kerja yang pendek dan istirahat 15 menit, itu saja.

Dalam sebuah dokumentasi pendidikan, Walker mempelajari bahwa remaja di Finlandia berumur 15 tahun secara konsisten menunjukkan performa yang baik dalam serangkaian tes internasional bernama PISA. Dimana tes tersebut mengukur ketrampilan berpikir kritis dalam area membaca, matematika, dan IPA. Walker hanya tahu sekelumit pendidikan di Finlandia saat ia mendaftar pekerjaan sebagai guru kelas lima di Helsinki.

Beberapa tahun kemudian, Walker pun akhirnya menyadari perbedaan sistem pendidikan di Finlandia dengan negara lain terutama negara asalnya, Amerika Serikat. Ia pun menuliskan pengalamannya itu kedalam sebuah buku berjudul “Teach Like Finland” yang berisi ringkasan bagaimana sistem pendidikan revolusioner di Finlandia berjalan hingga akhirnya mereka dapat menjadi salah satu yang terbaik di dunia dan menjadi rujukan negara-negara lain.

Tak ketinggalan Walker pun menyisipkan 33 strategi sederhana untuk membangun kelas interaktif yang menyenangkan dalam buku setebal 197 halaman ini. Apa saja isinya, bacalah bukunya.

Semoga bermanfaat.

Tertulis di akhir pekan, 7 Maret 2020.


Referensi

Walker, Timothy D. 2017. Teach Like Finland. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

About the author

Avatar
Fahmi W. Arifudin

Guru PKn, Freelancer, Football, Reading, Writing & Gaming

Add Comment

Fahmi W. Arifudin

Avatar

Guru PKn, Freelancer, Football, Reading, Writing & Gaming

Media Sosial

Arsip

Kategori

Pos Terbaru

Tag

error: Content is protected !!